Akhbarul youm jumat lalu, mengabarkan Mosalah sudah mulai latihan lagi dan kabarnya Liverpool memperpanjang kontraknya.
Ah Mosalah, saya menulis ini sengaja setelah berlalunya Champion’s League agar tidak terkesan euforianya. Setelah sepakat kami bertujuh anak-anak rumah gami’ memutuskan untuk membaiat diri kami sendiri sebagai Liverpudlian. Setelah sebelumnya harus merasa sungkan dengan Barca, karena saya pernah terbaiat, ah iyaa cuma masa lalu. Haha…
Walaupun bukan pecinta bola sejati yang memang itu dunia maskulinitas, tapi pengetahuan bola saya sedikit-sedikit bisa dipertanggungjawabkan. Menyoal Mosalah yang lebih digandrungi karena gaya selebrasinya khas membawa simbolis religius dan sempat tertangkap kamera ketika tilawah di pesawat daripada cetakan goal-goalnya yang fenomenal, akhirnya saya pun juga harus mengakui kalau Mosalah punya power “Agent of change” terhadap view Islam di dunia barat, namun tetap saja, saya professional, saya menyukai ketepatan tendangan bolanya.
Setelah banyak mendengar komentar orang Mesir tentang Salah, kebanyakan mereka bangga dengan kelincahan dan kepiawaiannya menggiring bola, jarang sekali mereka mengapresiasi gaya selebrasi atau simbolis religius yg dia bawa.
Hal ini membuat saya kembali menyusuri sudut-sudut Negeri Fir'aun, salah satu hal viewable di negeri ini adalah membuminya Al Qur'an, hampir setiap jengkal tanah nyaris yang tidak mentilawahi Al'Qur'an. Kakek tukang buah langganan saya hampir ketika menemuinya selalu sedang mengaji, mas tukang pulsa hampir tiap saat menfengarkan murottal dari Hp bututnya. Tukang sayur, tukang ikan, tukang jus, tukang ayam, sopir, mahasiswa, pekerja kantoran….
Hampir setiap sudut, yaa hampir setiap sudutnya. Kalau perjalanan naik bis dari Asyir tempat saya tinggal menuju Darrasah tempat masjid Azhar, selalu ada pemandangan unik silih berganti, ada mas-mas yang tampangnya tampak garang, pakaiannya ala-ala preman tapi yg dikeluarin dari sakunya sebuah mushaf kecil. Alamak pemandangan seperti inilah yg akhirnya membuat saya malu untuk memutar lagu westlife kesayangan, dan akhirnya mulai membiasakan diri dengan mushaf ataupun murottal.
Belum lagi kalau berjalan sepanjang Mahattoh bis menuju Azhar, aduhai tampak bapak-bapak penjual kibdah itu menirukan murottal yang dia stel, sampingnya tukang selimut yang juga sedang menstel murottal, saling bersahutan, jika saat melewatinya, ada surat yang kebetulan saya hapal, saya tak sadar terbawa murojaah dengan sendirinya.
Inilah Negeri tempat lahir Salah, kalau hanya mengapresiasi gaya selebrasi dan kebiasaan tilawahnya, itu hal biasa bagi mereka, itu udah jadi habit buat Salah dan keluarganya. Begitulah Salah merepresentasikan negerinya.
Kadang boleh jadi kita terperangkap euforia superior, mengagumi sesuatu yang melekat pada seseorang secara berlebihan, alih-alih berlebihan tapi justru hanya sebatas permukaan. Kamaren pas musim liga champion semua orang mensuperiorkan Salah, memuji sisi kereligiusannya, pas musim berlalu, ganti objek yang ganti disuperiorkan, dan begitu seterusnya. Terutama pada hal-hal yang sporadis, padahal sesuatu yang berkala cenderung dinamis. Hari ini begini esok bisa jadi begitu.
Sebagai Liferpludian sendiri, kudu tetap profesional, yaa kalau Salah maennya bagus yaa diapresiasi, kalau jelek yaa tetep diapresiasi, apalagi permainan tim, Salah bisa ngegoolin bisa juga karena timnya solid dan kompak, yaa taukan masih ada Mane dan Firmino gitu.
Suka dengan gaya selebrasi Salah dan sisi kereligiusannya bagus, Afdholnya yaa tidak sekedar jadi euforia atau di permukaan saja, lalu menghilang setelah lama dia tidak melakukan selebrasi kembali. Kata seorang guru “Idza ahabba syaian tajalla biausoofihi”. Kamu seorang pemain bola, fansternya Salah, kalau ngga suka ngaji, yaa maaf saya ngga percaya kalau kamu fansnya, uhuy…
Pandai-pandailah melihat sesuatu yang esensial. Semakin banyaknya benda-benda artifisial membuat kita malas merenungkan sebuah makna, jika kita tidak tau mana yang esensial mana yang tidak, kita akan mudah terdistraksi ke hal-hal yang receh dan dangkal.
Hari ini, ada banyak hal yang fluktuatif, itulah kenapa saya terus berkontemplasi menyusuri sudut-sudut kota ini, masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, mungkin akan saya temui lagi Salah-Salah yang lain dengan karakter yang beda, kemaren saya ketemu tukang taxi yg dengerin murottal tapi akhirnya saya kena tipu juga, oh yaa itu jelas bukan Salah.
Mencari makna adalah perjalanan yang mengasyikkan, nil itu akan tampak punya makna bagi orang yang hatinya penuh makna, tapi tak ada maknanya bagi orang yang hanya sekadar mampir niat untuk selfi.
Apalah artinya seorang pecinta, jika akhirnya ia terjebak pada hal-hal yang tidak bermakna, melelahkan, kecewa lagi, dan begitu lagi, kita diciptakan kan buat ibadah nak, sudah tau kan esensinya apa.
إذا كنت تحب ليلى أحببت دارها، و إذا قتلت ليلى فلا قيمة لبكائك على دارها
“Kalau kamu mencintai Laila, kamu juga mencintai rumahnya, tapi kalau kamu bunuh Laila, tidak ada artinya kamu menangisi rumahnya” ~ Dr. Abu Musa
Jadi yg kamu cintai sebenernya Laila apa rumahnya?
Ah Mosalah, saya menulis ini sengaja setelah berlalunya Champion’s League agar tidak terkesan euforianya. Setelah sepakat kami bertujuh anak-anak rumah gami’ memutuskan untuk membaiat diri kami sendiri sebagai Liverpudlian. Setelah sebelumnya harus merasa sungkan dengan Barca, karena saya pernah terbaiat, ah iyaa cuma masa lalu. Haha…
Walaupun bukan pecinta bola sejati yang memang itu dunia maskulinitas, tapi pengetahuan bola saya sedikit-sedikit bisa dipertanggungjawabkan. Menyoal Mosalah yang lebih digandrungi karena gaya selebrasinya khas membawa simbolis religius dan sempat tertangkap kamera ketika tilawah di pesawat daripada cetakan goal-goalnya yang fenomenal, akhirnya saya pun juga harus mengakui kalau Mosalah punya power “Agent of change” terhadap view Islam di dunia barat, namun tetap saja, saya professional, saya menyukai ketepatan tendangan bolanya.
Setelah banyak mendengar komentar orang Mesir tentang Salah, kebanyakan mereka bangga dengan kelincahan dan kepiawaiannya menggiring bola, jarang sekali mereka mengapresiasi gaya selebrasi atau simbolis religius yg dia bawa.
Hal ini membuat saya kembali menyusuri sudut-sudut Negeri Fir'aun, salah satu hal viewable di negeri ini adalah membuminya Al Qur'an, hampir setiap jengkal tanah nyaris yang tidak mentilawahi Al'Qur'an. Kakek tukang buah langganan saya hampir ketika menemuinya selalu sedang mengaji, mas tukang pulsa hampir tiap saat menfengarkan murottal dari Hp bututnya. Tukang sayur, tukang ikan, tukang jus, tukang ayam, sopir, mahasiswa, pekerja kantoran….
Hampir setiap sudut, yaa hampir setiap sudutnya. Kalau perjalanan naik bis dari Asyir tempat saya tinggal menuju Darrasah tempat masjid Azhar, selalu ada pemandangan unik silih berganti, ada mas-mas yang tampangnya tampak garang, pakaiannya ala-ala preman tapi yg dikeluarin dari sakunya sebuah mushaf kecil. Alamak pemandangan seperti inilah yg akhirnya membuat saya malu untuk memutar lagu westlife kesayangan, dan akhirnya mulai membiasakan diri dengan mushaf ataupun murottal.
Belum lagi kalau berjalan sepanjang Mahattoh bis menuju Azhar, aduhai tampak bapak-bapak penjual kibdah itu menirukan murottal yang dia stel, sampingnya tukang selimut yang juga sedang menstel murottal, saling bersahutan, jika saat melewatinya, ada surat yang kebetulan saya hapal, saya tak sadar terbawa murojaah dengan sendirinya.
Inilah Negeri tempat lahir Salah, kalau hanya mengapresiasi gaya selebrasi dan kebiasaan tilawahnya, itu hal biasa bagi mereka, itu udah jadi habit buat Salah dan keluarganya. Begitulah Salah merepresentasikan negerinya.
Kadang boleh jadi kita terperangkap euforia superior, mengagumi sesuatu yang melekat pada seseorang secara berlebihan, alih-alih berlebihan tapi justru hanya sebatas permukaan. Kamaren pas musim liga champion semua orang mensuperiorkan Salah, memuji sisi kereligiusannya, pas musim berlalu, ganti objek yang ganti disuperiorkan, dan begitu seterusnya. Terutama pada hal-hal yang sporadis, padahal sesuatu yang berkala cenderung dinamis. Hari ini begini esok bisa jadi begitu.
Sebagai Liferpludian sendiri, kudu tetap profesional, yaa kalau Salah maennya bagus yaa diapresiasi, kalau jelek yaa tetep diapresiasi, apalagi permainan tim, Salah bisa ngegoolin bisa juga karena timnya solid dan kompak, yaa taukan masih ada Mane dan Firmino gitu.
Suka dengan gaya selebrasi Salah dan sisi kereligiusannya bagus, Afdholnya yaa tidak sekedar jadi euforia atau di permukaan saja, lalu menghilang setelah lama dia tidak melakukan selebrasi kembali. Kata seorang guru “Idza ahabba syaian tajalla biausoofihi”. Kamu seorang pemain bola, fansternya Salah, kalau ngga suka ngaji, yaa maaf saya ngga percaya kalau kamu fansnya, uhuy…
Pandai-pandailah melihat sesuatu yang esensial. Semakin banyaknya benda-benda artifisial membuat kita malas merenungkan sebuah makna, jika kita tidak tau mana yang esensial mana yang tidak, kita akan mudah terdistraksi ke hal-hal yang receh dan dangkal.
Hari ini, ada banyak hal yang fluktuatif, itulah kenapa saya terus berkontemplasi menyusuri sudut-sudut kota ini, masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, mungkin akan saya temui lagi Salah-Salah yang lain dengan karakter yang beda, kemaren saya ketemu tukang taxi yg dengerin murottal tapi akhirnya saya kena tipu juga, oh yaa itu jelas bukan Salah.
Mencari makna adalah perjalanan yang mengasyikkan, nil itu akan tampak punya makna bagi orang yang hatinya penuh makna, tapi tak ada maknanya bagi orang yang hanya sekadar mampir niat untuk selfi.
Apalah artinya seorang pecinta, jika akhirnya ia terjebak pada hal-hal yang tidak bermakna, melelahkan, kecewa lagi, dan begitu lagi, kita diciptakan kan buat ibadah nak, sudah tau kan esensinya apa.
إذا كنت تحب ليلى أحببت دارها، و إذا قتلت ليلى فلا قيمة لبكائك على دارها
“Kalau kamu mencintai Laila, kamu juga mencintai rumahnya, tapi kalau kamu bunuh Laila, tidak ada artinya kamu menangisi rumahnya” ~ Dr. Abu Musa
Jadi yg kamu cintai sebenernya Laila apa rumahnya?
Mantapppp dahhh. 👍👍👍👍😆😆😆😆😆
BalasHapus