Tahukah kamu, Kota Aphella adalah kota yang dibangun dari dua peradaban muara sungai Galiya dan Amashiria, mereka bertemu dan akhirnya menyatu, kota ini dahulunya pernah dijajah seorang Raja yang cukup unik. Setelah sang Raja berhasil menaklukkan kota ini, ia mencari tahu apa yang disukai penduduk, ia memperhatikan setiap sudut kota Aphella dan akhirnya sang Raja tahu bahwa penduduk Aphella suka makan kue mochie dan menceritakan sebuah buku. Namun yang tak kalah unik, setelah melahap beberapa potong kue mochie mereka juga mengakhiri kegiatan menceritakan isi sebuah buku tersebut.
Sang Raja pun tertegun, kue mochie adalah sejenis kue lembut yang kelezatannya melenakan empunya, setiap dia memakannya, ia hampir melupakan ambisi hidupnya bahkan ia hampir melupakan kenikmatan menebaskan pedang. Bagaimana mungkin penduduk itu membagi kelezatan mengunyah kue mochie dengan menceritakan isi sebuah buku?
Dia berhenti bercerita, sepertinya dia menungguku menananggapi pertanyaannya. Aku menatapnya dan melihat segurat kesedihan di pelupuk matanya semakin bertambah.
“Karena menceritakan isi sebuah buku mempunyai dua sisi, sisi kemanisan dan sisi kepahitan, jika itu manis maka kue mochie menjadi kue termanis sepanjang masa, tapi jika itu pahit maka kue mochie menjadi kue terpahit sepanjang masa.” Aku menebak-nebak sebuah jawaban. Kukira jawaban ini yang dimaksud Sufyan.
“Kau dapat menjawabnya meskipun belum membaca ceritanya. Hamdah, apa yang akan kau lakukan jika perpustakaan kota benar-benar akan dibakar?.” dia menanyaiku dan melemparkan segurat senyum kepahitan, jika kutebak lagi, senyumnya lebih pahit dari kue mochie milik penduduk Aphella.
“Aku akan membakar diriku juga.” Jawabku dengan tangguh.
“Aku akan membangun perpustakaan lagi sebelum tubuhmu habis terbakar.” Kali ini Sufyan membuatku tersipu meskipun pelupuk matanya tetap mengantongi hujan yang hampir luruh.
Inilah kami, segelintir penghuni Aphella yang akan hilang, peperangan akan pecah di kota ini. setelah mendengar berita dari ayahku kemaren sore, kota ini telah jatuh ke pelukan Inggris, Duke Alvreo dan pasukannya akan mendatangi kota ini esok hari, kabarnya dia akan membakar perpustaaan rakyat Aphella, dia akan membangun kerajaan di kota ini. kerajaan yang katanya memiliki air mancur di pusatnya. Duke Alvreo benar-benar akan meluluhlantakkan sisa-sisa peradaban sungai Galiya dan Amashiria. Tak hanya itu, dia akan membakar perpustakaan kota, perpustakaan dengan buku-buku kisah Raja-Raja Timur tengah, kisah-kisah ilmuwan Cordoba, dan buku kisah cinta para penyair dan para biduan. Sayangnya, Aphella hari ini bukanlah Aphella yang diceritakan Sufyan.
“Sufyan, sedang apa kau di atas sana?” aku meneriakinya dari bawah bukit, punggungnya tepat menutupi cahaya mentari senja.
“Naiklah !” Sufyan melongok ke bawah dan menawariku uluran tangan, aku lebih dulu melesat ke atas bukit mengabaikan uluran tangannya.
“Untuk apa kau bawa buku sebanyak ini kesini?” aku mengernyit penuh tanya.
“Aku akan membaca semuanya sebelum esok aku pergi berperang.” Dia meletakkan buku yang dia pegang dan membetulkan kain penutup kepalaku yang tertiup angin.
“Kau sudah gila, Sufyan.” aku merebut buku di tangannya.
“Aku akan benar-benar gila, sebelum aku gila, aku akan membangun perpustakaan di kepalaku, kau mau membacanya juga Hamdah?”. Sufyan mulai membuka lembar demi lembar sebuah buku. Dia mengambil buku tentang Raja Aphaton, Raja Mesir kuno dan mulai membacanya.
“Ceritakan kepadaku tentang Aphaton !” aku mendongakkan kepala penuh antusias.
Sufyan mulai bercerita, dia membuka cerita dengan pujian kepada Aphaton. Aphaton adalah Raja Mesir kuno, dia dipaksa tunduk kepada Akhen, Aphaton dianggap telah melanggar kerajaan karena tidak mau menyembah matahari, meskipun keduanya bersaudara, Akhen memutuskan untuk memerangi Aphaton. Aphaton tetap dengan keyakinannya, dia mempertahankan kerajaan dan akhirnya dia dibakar. Sufyan mengakhiri ceritanya tentang Aphaton lalu melanjutkan cerita tentang penyair Sevilla yang syairnya membahana hingga ke langit. Dia terus bercerita dan mengakhiri ceritanya tentang kisah cinta Asma dan Hasan.
Senja tak mau berlama-lama duduk bersama kami, matahari mulai bergeser sedikit demi sedikit. Bagian bukit tempat kami duduk perlahan mulai gelap, sebelum benar-benar gelap aku menikmati senyum di wajah Sufyan, kutebak senyum bahagia karena berhasil menyimpan seluruh isi buku-buku itu di kepalanya. Mulai dari kisah para raja, para penyair, para pengkhianat, kisah kota-kota hingga berakhir dengan kisah cinta. aku terus memandanginya. aku pun ikut gila. Pepohonan zaitun di sekitar bukit mulai hilang bayangannya, sepertinya senja mulai berganti tugas dengan malam. Sufyan menyuruhku pulang.
“Bacalah buku ini dan ceritakanlah esok padaku !”. dia menyodorkan dua buku kepadaku dan mengusirku, sedangkan dia kembali tenggelam dalam sabda-sabda tinta di tangannya.
***
Pagi ini tampak seperti biasanya, aroma debu dan sungai Galiya tampak beradu, ranting-ranting pohon zaitun mulai ramai dihuni kawanan burung ahre. Tapi ayah menyuruhku pergi bersama para wanita Aphella menyeberangi sungai Galiya menuju Ahran. Ayah memelukku erat dan mendudukkanku di sebelahnya. Dia memandangi wajahku yang manis semanis ibu katanya. Lalu dia mengatakan hal paling menyakitkanku, dia akan berperang melawan pasukan inggris Duke Alvreo.
Aku mengatakan padanya, aku juga akan ikut berperang. Dia memarahiku dan memohon kepadaku untuk cepat-cepat menyusul para wanita Aphella. Ayah hampir mengusirku. Aku menyerah, sebelum aku pergi, aku memeluknya dan menghujaninya dengan pujian-pujian seorang pahlawan seperti dalam kisah-kisah para penyair ketika pergi berperang.
Aku berjalan menuju bukit tempat aku dan Sufyan membaca buku. Suasana menjadi sedikit kacau, beberapa laki-laki tampak sedih memeluk anak-anak mereka, isak tangis perempuan mengalun beradu dengan burung-burung ahre. Sebagian pemuda mulai mengayun-ayunkan tombak mereka, panah-panah mulai dikeluarkan. Sebagian yang lain mendendangkan lagu-lagu pengobar semangat.
“Sufyan, kau tampak gagah dengan panah itu.” Aku meneriakinya dari bawah bukit.
“Aku akan memanah satu burung di udara itu untukmu.” Dia mengulurkan tangannya, kali ini aku menyambutnya.
“Aku bisa memanahnya sendiri.” Aku merebut panah dari tangannya dan melesatkan satu anak panah tepat mengenai tubuh satu burung ahre, aku berkacak pinggang memamerkan kebolehanku, Sufyan menghadiahiku dengan sorakan dan tepuk tangan.
“Lihat aku !” dia melesatkan anak panahnya dan tiga anak panah tepat menyasar ke tubuh burung ahre yang terbang bebas.
“Ceritakan kepadaku tentang buku kemaren.” Sufyan meletakkan panahnya di atas bebatuan.
Aku mulai bercerita tentang kerajaan-kerajaan di timur tengah tentang kestrianya yang pandai berperang dan kisah para penulis yang menghabiskan malamnya mengayun pena. Semalam aku terpesona dengan cerita dua peradaban timur tengah dan Andalusia, timur tengah yang dipenuhi dengan kemegahan bangunan keilmuwan dan Andalusia yang penuh dengan bangunan megah dan kehidupan yang rukun. Replika surga yang nyaris sempurna.
“Duduklah bersamaku lebih lama, akan kuceritakan kisah-kisah yang belum pernah kau dengar.” Aku memohon kepada Sufyan. Dia mulai membenahi pakaian perangnya.
“Kau belum membaca tentang kisah kota-kota megah yang akhirnya hancur ditangan para penjajah.” Sufyan membenahi penutup kepalaku, kali ini dia memandangiku lama.
“Kau meramal kota Aphella akan hancur ? “ aku menebak maksud pernyataannya.
Sufyan mulai melepaskan tangannya dari kepalaku. Dia mengucapkan salam, kali ini aku tidak menebaknya tapi aku bisa merasakan, dia menyampaikan salam perpisahan. Sufyan tak berkata apa-apa, dia mulai menutup sebagian wajahnya. Aku melihat matanya, satu-satunya anggota tubuhnya yang masih terlihat. Aku menikmati keindahan bola matanya yang berbeda dari pemuda-pemuda Aphella.
“Bangunlah perpustakaan di kepalamu, Hamdah.” Dia memukul ringan kepalaku dan segera menuruni bukit.
Kukira kalimat itulah kalimat terakhir yang kudengar dari Sufyan, dia menambahi sedikit dengan kalimat yang membuatku tersipu. Katanya aku cantik secantik taman kota Aphella. Kulihat punggungnya semakin menjauh, ia tenggelam bersama para laki-laki Aphella.
Pagi itu aku mendapat pujian dari dua lelaki kesatria Aphella. Aku berlari menuju sungai Galiya dan menyeberanginya menuju Ahran bersama segerombol para wanita. Para wanita itu sibuk menghibur anak-anak mereka, menjanjikan ayah mereka akan selamat dan kembali, sebagian lain mengajari anak-anak mereka merapal doa untuk ayah dan negerinya. Akupun memutuskan untuk berdo’a.
Pagi berganti senja, aku melihat asap hitam membumbung tinggi memenuhi persada langit Ahran. Suara-suara pilu mengalun bersama suara burung-burung liar. Sungai Galiya dan Amashiria menghitam. Aku melihat Sufyan sedang membangun perpustakaan di kepalaku.
Komentar
Posting Komentar