Suatu hari ada adek kelas yang bertanya kepada saya “Kak, kenapa kakak ngga suka baca novel Tere Liye? ”, saat itu saya jawab kalau novel Tere Liye kurang berat bagi saya, sebenarnya saya ingin menjelaskan panjang lebar plus alasan-alasan yang suistainable tapi kok terkesan ekstrem, pas banget waktu itu dia lagi baca novel Tere Liye, barangkali ini waktu yang tepat untuk menjelaskannya.
Baiklah, bagi saya tidak masalah membaca novel siapapun, apalagi untuk pembaca newbie yang mulai menambatkan hatinya pada dunia baca, masalah “book addict” mungkin akan tidak menjadi point of view pada tulisan ini hanya menjadi salah satu sampel.
Jadi menyangkut pertanyaan adek kelas saya, setiap orang punya standar hidup masing-masing, di dalam menentukan pilihan hidup. Makanan, lifestyle, pakaian, jenis bacaan, sampe model jilbab. Dari yang idealisnya ekstrem banget sampe yang kena dampak seleksi alam, dan akhirnya tergilas trend.
Kebanyakan Novel Tere liye adalah sajian novel dengan gaya tulisan lentur, mudah dicerna, nilai-nilai sosial yang transparan, pesan-pesan yang measurable, cocok untuk dikonsumsi berbagai lapisan masyarakat.
Tapi apakah saya akan mengatakan novel Tere liye jelek? Bukan, beberapa novel Tere liye bahkan sudah saya lahap, hanya bagi saya personally, novel Bang Tere bukan standar kreatifitas saya, saya membuat aturan dan kategori terhadap apa yang saya baca, mau cerpen, opini, novel, drama, komik, esai. Tidak semua bacaan bagus, dan diantara bacaan yang bagus tidak semua bacaan membentuk kreatifitas, mengolah kerja otak, atau membentuk pola pikir pembaca.
Ini bukan bentuk kelancangan saya sebagai mahasiswa sastra haha, saya merasakan apa kata Rene Descartes “The reading of all good book is like a conversation with the finest minds of past centuries”. Buku yang bagus menurut standar baca saya adalah buku yang kompleks, membentangkan perjalanan yang tidak sederhana menuju maksud si penulis. Buku ini membuat saya menggunakan otak saya untuk berinteraksi dengan penulis.
Seperti ketika membaca novel A Thousand Splendid Sun dan The Kite Runner, Khaled Hossaini mengajak saya untuk memahami ketidak sederhanaan kisah persahabatan, pesan yang didapat lewat proses kontemplasi, tidak transparan, sehingga alamak rasanya seperti jalan-jalan di putaran zaman Afghanistan kala itu.
Dan masih banyak lagi buku-buku lain, teater shakespeare, novel sherl astrella dengan nuansa klasik kerajaan inggris, Sibel Eraslan dan artikel milik Zaky Najib Mahmud, Gunawan Muhammad, dll… buku yang saya sebutkan tersebut memiliki karakter bacaan yang kompleks, tidak mudah langsung disimpulkan, harus ada usaha dari pembaca untuk menyimpulkan, dari deskripsi tersebut saya bisa menilai sebuah buku
Beberapa bacaan umumnya menyajikan cerita-cerita yang umum dengan alur yang repetitif, pesan moral yang transparan sekali, konflik yang hampir bisa dipastikan, menurut saya sah-sah saja membaca buku yang seperti ini tapi yaa lagi-lagi buat saya buku seperti ini membuat malas mikir, malas merenung, malas menyimpulkan, dibaca sambil tiduran agak merem-merem juga paham.
Pembaca harus idealis, kualitas pembaca ditentukan dari apa yang ia baca, akhirnya saya bisa mengatakan kenapa generasi akhir ini kualitasnya menurun, hilangnya idealisme, mereka ngga punya standar pilihan, jangankan standar pilihan, mereka ngga suka baca, lebih suka hal ringan, bacaan-bacaan yang tidak substansial dan males mikir.
Ada satu hal yang saya notice setelah mengaji dengan Dr. Abu Musa kemaren “Seorang pembaca yang baik adalah yang mampu berinteraksi dengan maksud ulama terdahulu dari karyanya, dengan begitu kamu akan mengetahui kenapa mereka bisa memprakarsai sebuah ilmu pengetahuan” tentu jalan ini tidak mudah, harus menggunakan otak dan perasaan, well, semoga mereka tidak menangis melihat kita hari ini.
Suatu hari ada adek kelas yang bertanya kepada saya “Kak, kenapa kakak ngga suka baca novel Tere Liye? ”, saat itu saya jawab kalau novel Tere Liye kurang berat bagi saya, sebenarnya saya ingin menjelaskan panjang lebar plus alasan-alasan yang suistainable tapi kok terkesan ekstrem, pas banget waktu itu dia lagi baca novel Tere Liye, barangkali ini waktu yang tepat untuk menjelaskannya.
Baiklah, bagi saya tidak masalah membaca novel siapapun, apalagi untuk pembaca newbie yang mulai menambatkan hatinya pada dunia baca, masalah “book addict” mungkin akan tidak menjadi point of view pada tulisan ini hanya menjadi salah satu sampel.
Jadi menyangkut pertanyaan adek kelas saya, setiap orang punya standar hidup masing-masing, di dalam menentukan pilihan hidup. Makanan, lifestyle, pakaian, jenis bacaan, sampe model jilbab. Dari yang idealisnya ekstrem banget sampe yang kena dampak seleksi alam, dan akhirnya tergilas trend.
Kebanyakan Novel Tere liye adalah sajian novel dengan gaya tulisan lentur, mudah dicerna, nilai-nilai sosial yang transparan, pesan-pesan yang measurable, cocok untuk dikonsumsi berbagai lapisan masyarakat.
Tapi apakah saya akan mengatakan novel Tere liye jelek? Bukan, beberapa novel Tere liye bahkan sudah saya lahap, hanya bagi saya personally, novel Bang Tere bukan standar kreatifitas saya, saya membuat aturan dan kategori terhadap apa yang saya baca, mau cerpen, opini, novel, drama, komik, esai. Tidak semua bacaan bagus, dan diantara bacaan yang bagus tidak semua bacaan membentuk kreatifitas, mengolah kerja otak, atau membentuk pola pikir pembaca.
Ini bukan bentuk kelancangan saya sebagai mahasiswa sastra haha, saya merasakan apa kata Rene Descartes “The reading of all good book is like a conversation with the finest minds of past centuries”. Buku yang bagus menurut standar baca saya adalah buku yang kompleks, membentangkan perjalanan yang tidak sederhana menuju maksud si penulis. Buku ini membuat saya menggunakan otak saya untuk berinteraksi dengan penulis.
Seperti ketika membaca novel A Thousand Splendid Sun dan The Kite Runner, Khaled Hossaini mengajak saya untuk memahami ketidak sederhanaan kisah persahabatan, pesan yang didapat lewat proses kontemplasi, tidak transparan, sehingga alamak rasanya seperti jalan-jalan di putaran zaman Afghanistan kala itu.
Dan masih banyak lagi buku-buku lain, teater shakespeare, novel sherl astrella dengan nuansa klasik kerajaan inggris, Sibel Eraslan dan artikel milik Zaky Najib Mahmud, Gunawan Muhammad, dll… buku yang saya sebutkan tersebut memiliki karakter bacaan yang kompleks, tidak mudah langsung disimpulkan, harus ada usaha dari pembaca untuk menyimpulkan, dari deskripsi tersebut saya bisa menilai sebuah buku
Beberapa bacaan umumnya menyajikan cerita-cerita yang umum dengan alur yang repetitif, pesan moral yang transparan sekali, konflik yang hampir bisa dipastikan, menurut saya sah-sah saja membaca buku yang seperti ini tapi yaa lagi-lagi buat saya buku seperti ini membuat malas mikir, malas merenung, malas menyimpulkan, dibaca sambil tiduran agak merem-merem juga paham.
Pembaca harus idealis, kualitas pembaca ditentukan dari apa yang ia baca, akhirnya saya bisa mengatakan kenapa generasi akhir ini kualitasnya menurun, hilangnya idealisme, mereka ngga punya standar pilihan, jangankan standar pilihan, mereka ngga suka baca, lebih suka hal ringan, bacaan-bacaan yang tidak substansial dan males mikir.
Ada satu hal yang saya notice setelah mengaji dengan Dr. Abu Musa kemaren “Seorang pembaca yang baik adalah yang mampu berinteraksi dengan maksud ulama terdahulu dari karyanya, dengan begitu kamu akan mengetahui kenapa mereka bisa memprakarsai sebuah ilmu pengetahuan” tentu jalan ini tidak mudah, harus menggunakan otak dan perasaan, well, semoga mereka tidak menangis melihat kita hari ini.
Komentar
Posting Komentar