Source picture : Pinterest
Saya terus memandanginya, terpaku dan terus memasang telinga ketika beliau menjelaskan. Maukah kau kuceritakan tentang siapa yang membuatku terpaku?
Baiklah, sore itu saya mengikuti kegiatan rutinan talaqqi kitab Syarh Ibnu Aqil ‘ala Alfiyah Ibn Malik dirosah nahwiyah dan kitab Bughiyatul Idhoh dirosah balaghiyah bersama Maulana Syeikh Fathi Al Hijazi. Beliau adalah guru besar Universitas Al-Azhar takhossus lughowiyah atau gramatikal Arab. mahasiswa sastra dan bahasa mayoritas menimba ilmu dari beliau termasuk saya.
Sore itu kami belajar tentang Auzan fi’il madhi wa mudhorii’uhu”. Kalau dilirik dari judulnya, rasanya pembahasan ini sangat familiar, di pesantren tentu dipelajari sampai nglontok bahkan bagi kami mahasiswa bahasa Arab dicekoki lagi di meja perkuliahan. tapi ada sesuatu yang berbeda, yang membuat pembahasan ini seolah menjadi ilmu baru.
Maulana melontarkan sebuah pertanyaan kenapa fi’il madhi dimulai dengan fathah bukan kasroh bukan dhommah, kami termenung sejenak, setelah mengamati beberapa fi’il madhi di depan saya, saya baru sadar kok baru terpikir sampai situ. Lalu Maulana menjawab dengan sebuah qoidah yang eksotis “Manusia membutuhkan sesuatu yang mudah ketika memulai pekerjaannya dan Fathah adalah harokat yang paling mudah dan ringan, orang Arab suka dengan hal-hal yang mudah”. Pernyataan ini seketika membuat saya mengernyitkan dahi, kami terus mengucap kalimat tasbih mengagumi jawaban beliau.
Hal yang tak kalah eksotis juga terjadi ketika beliau menjelaskan tentang mudhori’nya fi’il waawiyyu- l -faa (وعد) seharusnya (يوعد) tapi menjadi (يعد), taukah kalian semua kalau dua orang musuh tidak mungkin hidup satu atap, يَ (Ya’ maftuhah) dan وْ (waw sakinah) itu saling bermusuhan, bagaimana mungkin mereka bisa hidup bersama, satu-satunya cara salah satu dari mereka harus pergi, maka pergilah وْ (waw sakinah). Terasa indah sekali penjelasan ini.
Dari nahwu, bukan sekadar menjelaskan gramatikal linguistik Arab saja. Ada nilai-nilai dan kaidah kehidupan yang tersembunyi. Yang bisa dilihat oleh pakarnya. Yang dijelaskan oleh orang-orang yang bertahun-tahun menempa ilmu dari sumbernya. Jika satu ilmu saja dijelaskan dengan metode ini, berapa nilai-nilai kehidupan yang kita dapat jika semua ilmu disampaikan dengan penuh metode. Kenikmatan tiada tara untuk seorang murid. Dua jam dars berlangsung benar-benar terasa singkat. beliau membuat kami sadar mempelajari nahwu tidak hanya tentang menjelaskan ini fi’il (kata kerja), ini faa’il (subjek), dan ini maf’ul (objek) lalu masalah selesai. Jika hanya itu, tidak perlu sampai sepuluh menit. Tapi Maulana menjelaskan bagaimana ini bisa menjadi kata kerja, bagaimana ini menjadi subjek dst. Dengan begini sebuah cabang keilmuan menjadi hidup.
Jika ditanya apa yang membuat saya bermulazamah dengan beliau, cara beliau mengajar inilah yang saya cari. Hari sabtu sore harga mati bagi saya untuk mengikuti dars beliau, semua kegiatan yang urgensinya lebih sedikit saya tolak. Jika ditinggalkan, takut ada permata yang tidak saya dengar langsung dari Maulana Syekh Fathi.
Pernah saya bertanya kepada seorang kawan “Sampai halaman berapa dars ini dipelajari?” katanya “Sudah jauh sepertinya sit”, “Wah padahal ingin ikut”, katanya lagi “Ikut saja, kan yang diambil dari Azhar bukan hanya sumbernya tapi metodenya”. Benar juga, metode atau manhaj termasuk rukun belajar yang tidak bisa disepelekan. Ketika sebuah ilmu disampaikan secara massif dan tak berongga, maka seperti tak ada kehidupan. Ilmu dibangun dengan kontruksi yang lentur, sehingga para peramu bisa menghidupkannya dengan efisiensi sebuah diskusi. Bagaimana para ulama dan masterpiece terdahulu menempuh perjalanan jauh hanya untuk mengadakan sebuah halaqah keilmuan.
Disinilah peran seorang guru, menghidupkan sebuah cabang-cabang ilmu. Pernah mendengar mutiara ini “ لا تعطني سمكة ولكن علمني كيف أصطاد “ Jangan beri aku ikan tapi ajari aku memancing. Guru yang memiliki manhaj mengerti apa yang dibutuhkan seorang murid. Ia tak hanya mengajarkan teks-teks keilmuan saja tapi proses terbentuknya teks-teks tersebut. Determinasi tersebut bisa dimulai dari malakah atau bakat dan penghayatannya terhadap sebuah cabang keilmuan. Jika seorang murid memiliki urgenitas dalam mencari guru ideal bagi dirinya maka menjadi guru lebih vital dan krusial dari itu. Karena dari sini, akan membentuk karakter dan pola pikir seorang murid. Bayangkan bila seorang murid hanya bisa mengcopy paste perkataan gurunya tanpa menggunakan pola pikirnya, maka ia akan mudah tersesat.
Menelisik lagi perkataan Dr. Abu Musa “Saya tidak mengajarkan buku ini tapi saya mengajari kalian cara menjelaskan buku ini”. Saya terkesima seketika kemudian berkontemplasi, saya belajar ini itu tapi apakah saya belajar cara menyampaikan ilmu ini dan itu, padahal cara beretorika termasuk determinasi diterimanya apa yang akan saya sampaikan nanti. Bagaimana jika saya justru menyesatkan orang. Tertunduklah saya, tiga menara Azhar itu kembali memanggil saya untuk terus belajar dan belajar.
Komentar
Posting Komentar