Langsung ke konten utama

Bagaimana Menikmati Sebuah Perjalanan?


Source Picture : Pinterest
Ada konklusi menarik yang baru saya temukan dalam standar hidup saya akhir-akhir ini. Ketika seorang kawan mengajak berjalan-jalan ke suatu tempat. Tempat ini rasanya sangat familiar, tidak terlalu istimewa karena sebagai mahasiswa yang sudah hampir kepala empat di Kairo bukan hal yang istimewa lagi mengunjungi tempat yang bernama Syari’ Muiz atau juga sering disebut baina qosroin, kalau bercerita tentang tempat-tempat hangout di Mesir, maka jangan bayangkan spot-spot hiburan buatan seperti yang ada di Indonesia yang awal tahun 2018 ini sedang booming-boomingnya. Seperti ayunan di udara, sepeda udara, taman buatan dll. Semua tempat ini semuanya instragamable. Hampir semua tempat yang kita sebut “Tempat cuci mata” di Mesir memiliki khas historial dan kuno. Kalau bukan berjenis bangunan monumen sejarah pasti sisanya museum yang menyimpan benda-benda bersejarah dengan segala macam jenisnya. Di Indonesia juga banyak ditemui semacam ini namun berimbang dengan spot buatan seperti yang saya sebutkan tadi. Tempat-tempat di Mesir ini tidak buruk meskipun sebenarnya juga tidak terlalu menghibur, bagaimana tidak, saat hati butuh yang cerah ceria, justru disajikan puing-puing kenangan masa lalu. Paling tidak jika dipotret dan di posting, caption yang pas biasanya ala-ala sejarawan dan quote bijak.

Setiap orang memiliki cara masing-masing menikmati sebuah perjalanan. Saya katakan kepada kawan saya, saya tidak ingin hanya menghabiskan jalan-jalan hanya dengan selfie atau kegiatan saling memotret satu sama lain, saya ingin duduk-duduk dan bercerita. Kawan saya setuju. Sepanjang perjalanan menyusuri jalanan sempit, bangunan dengan menara runcing dan bulat berjejer menghiasi pandangan, beberapa turis tampak asyik mengambil spot-spot bersejarah. Kami sengaja tidak mengeluarkan ponsel dari dalam tas, perjalanan mengalir begitu saja. Dimulai darinya, kawan saya mengawali cerita tentang buku yang baru saja ia beli, saking semangatnya dia bercerita, dia tak peduli dengan respon orang disekitarnya. Lalu ketika dia selesai, saya mulai bercerita. Spontan saya bercerita tentang keeksotisan Orhan Pamuk, penulis Turki peraih nobel sastra dunia yang menceritakan indahnya Kota Istanbul, jalanannya, gedungnya dengan kenangan masa Ottoman, jembatannya. Menara-menara di sepanjang jalan ini mengingatkan saya betapa eksotisnya masa Fathimiyah dan Utsmaniyyah. Perjalanan mengalir begitu saja, kami duduk-duduk sambil menikmati harum manis, bercanda dengan orang Mesir dan ternyata kami sadar, kami lupa mengambil photo.

Saya akhirnya menyadari, ternyata mengasyikkan sekali menikmati perjalanan dengan bercerita. Tempat-tempat ini sebenarnya sangat photoable, spot yang menggoda untuk bisa diupload di instragram. Tapi saya memilih untuk menikmati spot-spot ini untuk menceritakan apapun. Semakin banyaknya benda-benda artifisial di sekitar kita,  seolah segala sesuatu bisa dinikmati hanya dengan mengambil jepretan kamera. Ternyata tidak semua berlaku begitu. Ketika berjalan di tepian nil, saya terkagum-kagum, sungai di depan saya ini ternyata beratus-ratus abad lalu menjadi perebutan antara Raja Romawi dan Ratu Cleopatra. Ada banyak cara mengabadikan sketsa dan kenangan. Salah satunya adalah ingatan. Betapa Maha Besarnya Allah Swt menganugerahkan kepada manusia memori yang tidak dapat diukur dengan Tera. Gunanya untuk apa, yaa untuk mengingat. Manusia memang tempatnya salah dan lupa, tapi seringkali ini dijadikan alibi untuk cenderung lupa, pada akhirnya justru malas mengingat.

Bercerita merupakan cara untuk mengingat, dengan bercerita saya bisa mengingat banyak hal. Mengingat kenangan yang katanya bisa diambil pelajarannya, mengingat buku-buku yang selesai terbaca, mengingat apa yang saya lihat, mengingat apapun. Manusia sendiri adalah para pejalan, melakukan perjalanan menuju Tuhannya, tentu saja ia menemui banyak hal di setiap perjalanannya. Apa yang ia temui tak mungkin tak berarti apa-apa, sebab itulah kita selalu diingatkan untuk terus berfikir.  Kalau mau mengambil contoh, ulama-ulama terdahulu hampir mereka semua traveller, Imam Syafi’I, Imam Malik, Ibn Bathuta, dsb. Tentu saja mereka melakukan perjalanan untuk sebuah misi penting yaitu ilmu. Dibandingkan dengan zaman kita, zaman mereka adalah zaman dimana otak benar-benar produktif. Tempat-tempat pun menjadi saksi mereka.

Tempat-tempat yang kita kunjungi, sebenarnya mereka sedang bercerita kepada kita tentang kenangan yang tak sempat diceritakan orang pada masanya. Tentang kepahitan dan kemanisan sebuah perjalanan. Tapi sayangnya sebagai manusia yang memiliki perasaan, kita terlalu egois, menjadikan tempat-tempat hanya sebagai objek kepuasan dan popularitas. Dibumbui dengan kata-kata yang terlihat bijak. Ah betapa mudahnya menjadi orang bijak sekarang. Tidakkah kamu tau, bahwa tempat dan bangunan yang kamu kunjungi itu pernah menjadi tempat orang-orang disiksa, dibuai, ditempa hingga menjadi orang yang benar-benar bijak. Ah mungkin kamu lupa. Bukannya manusia tempatnya salah dan lupa, Selamat menikmati perjalananmu…….

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Idealisme Pembaca

Suatu hari ada adek kelas yang bertanya kepada saya “Kak, kenapa kakak ngga suka baca novel Tere Liye? ”, saat itu saya jawab kalau novel Tere Liye kurang berat bagi saya, sebenarnya saya ingin menjelaskan panjang lebar plus alasan-alasan yang suistainable tapi kok terkesan ekstrem, pas banget waktu itu dia lagi baca novel Tere Liye, barangkali ini waktu yang tepat untuk menjelaskannya. Baiklah, bagi saya tidak masalah membaca novel siapapun, apalagi untuk pembaca newbie yang mulai menambatkan hatinya pada dunia baca, masalah “book addict” mungkin akan tidak menjadi point of view pada tulisan ini hanya menjadi salah satu sampel. Jadi menyangkut pertanyaan adek kelas saya, setiap orang punya standar hidup masing-masing, di dalam menentukan pilihan hidup. Makanan, lifestyle, pakaian, jenis bacaan, sampe model jilbab. Dari yang idealisnya ekstrem banget sampe yang kena dampak seleksi alam, dan akhirnya tergilas trend. Kebanyakan Novel Tere liye adalah sajian novel dengan gaya tu...

Influence Teacher, Apa yang Kau Cari dari Gurumu?

Source picture : Pinterest Saya terus memandanginya, terpaku dan terus memasang telinga ketika beliau menjelaskan. Maukah kau kuceritakan tentang siapa yang membuatku terpaku? Baiklah, sore itu saya mengikuti kegiatan rutinan talaqqi kitab Syarh Ibnu Aqil ‘ala Alfiyah Ibn Malik dirosah nahwiyah dan kitab Bughiyatul Idhoh dirosah balaghiyah bersama Maulana Syeikh Fathi Al Hijazi. Beliau adalah guru besar Universitas Al-Azhar takhossus lughowiyah atau gramatikal Arab. mahasiswa sastra dan bahasa mayoritas menimba ilmu dari beliau termasuk saya. Sore itu kami belajar tentang Auzan fi’il madhi wa mudhorii’uhu”. Kalau dilirik dari judulnya, rasanya pembahasan ini sangat familiar, di pesantren tentu dipelajari sampai nglontok bahkan bagi kami mahasiswa bahasa Arab dicekoki lagi di meja perkuliahan. tapi ada sesuatu yang berbeda, yang membuat pembahasan ini seolah menjadi ilmu baru. Maulana melontarkan sebuah pertanyaan kenapa fi’il madhi dimulai dengan fathah bukan kasroh b...