Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2018

Cerpen : Kota Aphella

                                      Tahukah kamu, Kota Aphella adalah kota yang dibangun dari dua peradaban muara sungai Galiya dan Amashiria, mereka bertemu dan akhirnya menyatu, kota ini dahulunya pernah dijajah seorang Raja yang cukup unik. Setelah sang Raja berhasil menaklukkan kota ini, ia mencari tahu apa yang disukai penduduk, ia memperhatikan setiap sudut kota Aphella dan akhirnya sang Raja tahu bahwa penduduk Aphella suka makan kue mochie dan menceritakan sebuah buku. Namun yang tak kalah unik, setelah melahap beberapa potong kue mochie mereka juga mengakhiri kegiatan menceritakan isi sebuah buku tersebut. Sang Raja pun tertegun, kue mochie adalah sejenis kue lembut yang kelezatannya melenakan empunya, setiap dia memakannya, ia hampir melupakan ambisi hidupnya bahkan ia hampir melupakan kenikmatan menebaskan pedang. Bagaimana mungkin penduduk itu membagi kelezatan mengunyah k...

Sejarah, Masa Lalu atau Masa Depan?

“If you don’t know history, then you don’t know everything. You are a leaf that doesn’t know it is part of a tree” ~ Michael Crichton Tulisan ini diawali dengan sekelumit pertanyaan dengan kata kunci “sejarah”, ketika itu sedang mengikuti dars shiroh nabawiyah oleh Dr. Fathi Hijazi, seperti biasa beliau membuka kegiatan talaqqi dengan kalimat “Inna fii Rasulullahi uswatun hasanah” sekilas tampak familiar dan sederhana tapi nyatanya tidak sesederhana untuk benar-benar memasuki kehidupan Rasul. Berselancar di taman kenangan masa lalu adalah satu kenikmatan tersendiri. Tapi siapa sangka ada stereotip yg dibangun di dalamnya. Ketika menguraikan potongan-potongan masa lalu nyatanya justru berujung akhirnya pada perasaan superior sekaligus inferior. Padahal mafhum, premis yang melekat adalah masuk ke ruang masa lalu dan kembali membawa segenggam pelajaran untuk masa depan, namun adakah sesederhana itu? Dalam membincang “sejarah” atau masa lalu ada semacam liberasi yang sedikit me...

Idealisme Pembaca

Suatu hari ada adek kelas yang bertanya kepada saya “Kak, kenapa kakak ngga suka baca novel Tere Liye? ”, saat itu saya jawab kalau novel Tere Liye kurang berat bagi saya, sebenarnya saya ingin menjelaskan panjang lebar plus alasan-alasan yang suistainable tapi kok terkesan ekstrem, pas banget waktu itu dia lagi baca novel Tere Liye, barangkali ini waktu yang tepat untuk menjelaskannya. Baiklah, bagi saya tidak masalah membaca novel siapapun, apalagi untuk pembaca newbie yang mulai menambatkan hatinya pada dunia baca, masalah “book addict” mungkin akan tidak menjadi point of view pada tulisan ini hanya menjadi salah satu sampel. Jadi menyangkut pertanyaan adek kelas saya, setiap orang punya standar hidup masing-masing, di dalam menentukan pilihan hidup. Makanan, lifestyle, pakaian, jenis bacaan, sampe model jilbab. Dari yang idealisnya ekstrem banget sampe yang kena dampak seleksi alam, dan akhirnya tergilas trend. Kebanyakan Novel Tere liye adalah sajian novel dengan gaya tu...

Mosalah dan Sudut-sudut Negeri Mesir

Akhbarul youm jumat lalu, mengabarkan Mosalah sudah mulai latihan lagi dan kabarnya Liverpool memperpanjang kontraknya. Ah Mosalah, saya menulis ini sengaja setelah berlalunya Champion’s League agar tidak terkesan euforianya. Setelah sepakat kami bertujuh anak-anak rumah gami’ memutuskan untuk membaiat diri kami sendiri sebagai Liverpudlian. Setelah sebelumnya harus merasa sungkan dengan Barca, karena saya pernah terbaiat, ah iyaa cuma masa lalu. Haha… Walaupun bukan pecinta bola sejati yang memang itu dunia maskulinitas, tapi pengetahuan bola saya sedikit-sedikit bisa dipertanggungjawabkan. Menyoal Mosalah yang lebih digandrungi karena gaya selebrasinya khas membawa simbolis religius dan sempat tertangkap kamera ketika tilawah di pesawat daripada cetakan goal-goalnya yang fenomenal, akhirnya saya pun juga harus mengakui kalau Mosalah punya power “Agent of change” terhadap view Islam di dunia barat, namun tetap saja, saya professional, saya menyukai ketepatan tendangan bolanya. S...